5/16/2011

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 Mempersatukan Bangsa

1. Organisasi Pemuda Sebelum Sumpah Pemuda
Di Batavia (Jakarta) pemuda-pemuda pelajar yang merantau merasa lebih akrab bergaul denganpemuda-pemuda sedaerahnya. Jika di daerahnya mereka saling tidak mengenal, maka di rantau mereka dapat bergaul dengan akrab. Di Batavia atau Jakarta mereka merasa senasib, sependeritaan, dan sepenanggungan. Mula-mula rasa kebersamaan berasal dari ikatan sedaerah, satu suku bangsa.
Pada waktu itu rasa nasionalisme Indonesia belum merupakan hal yang jelas dan nyata seperti sekarang. Kata “Indonesia” sendiri pada waktu itu belum begitu terkenal. Jadi, tidaklah mengherankan jika pada waktu itu muncul organisasi yang bersifat kedaerahan.
Beberapa organisasi atau perkumpulan pemuda yang berdiri waktu itu adalah sebagai berikut.

a. Tri Koro Darmo
Pada tanggal 9 Maret 1915 di Jakarta, atas inisiatif pemuda-pemuda seperti Satiman, Kadarman, dan Sunardi didirikan sebuah perkumpulan pemuda pertama di Indonesia dengan nama Tri Koro Darmo. Yang berarti tiga tujuan mulia. Tiga tujuan mulia itu ialah Sakti, Budi, dan Bakti.
Organisasi ini berasal dari anak-anak pelajar sekolah menengah dari Jawa dan Madura yang bersekolah di Jakarta. Pada tahun 1918, nama Tri Koro Darmo diubah menjadi Jong Java, sehingga anggotanya terbuka bagi seluruh pemuda Jawa termasuk Jawa Barat.
Azas dan tujuan Tri Koro Darmo ialah:
1. Menimbulkan pertalian di antara murid-murid bumi putera dan sekolah-sekolah menengah dan kursus kejuruan.
2. Menambah pengetahuan umum bagi anggotanya.
3. Membangkitkan dan mempertajam buat segala bahasa dan kebudayaan Hindia (Indonesia).

b. Jong Sumateranen Bond (Pemuda Sumatera)
Jong Sumateranen Bond (Pemuda Sumatera) berdiri pada tanggal 9 Desember 1917 di Jakarta. Pendirinya adalah para pemuda yang berasal dari Sumatera.
Tujuan dari Jong Sumateranen Bond adalah mempererat hubungan dan persaudaraan antara pemuda-pemuda dan pelajar yang berasal dari Pulau Sumatera.
Tokoh-tokoh dari Jong Sumatera ialah Moh. Hatta Moh. Yamin, M. Tamsil, Bahder Johan, Assaat, Abu Hanifah, Adnan Kapaau, Gani, dan lain-lain.

c. Jong Minahasa (Pemuda Minahasa)
Pemuda-pemuda Minahasa dari Sulawesi Utara tidak mau ketinggala. Pada tahun 1918, mereka mendirikan perkumpulan pemuda yang terkenal dengan nama Jong Minahasa atau Pemuda Minahasa.
Tujuan organisasi ini menggalang dan mempererat persatuan dan tali persaudaraan di kalangan pemuda pelajar yang berasal dari Minahasa.

d. Jong Celebes (Pemuda Sulawesi)
Jong Celebes adalah organisasi pemuda yang menghimpun para pemuda dan pelajar yang berasal dari Selebes atau Pulau Sulawesi. Maksud dan tujuannya adalah mempererat rasa persatuan dan tali persaudaraan di kalangan pemuda pelajar yang berasal dari Pulau Sulawesi.
Masih banyak lagi organisasi pemuda, pelajar yang bercirikan kedaerahan.

2. Peristiwa Sumpah Pemuda
Para pemuda yang tergabung dalam berbagai organisasi pemuda dan pelajar yang bersifat kedaerahan, sangat mendambakan munculnya rasa persatuan nasional di kalangan pemuda. Mereka menginginkan agar organisasi-organisasi yang ada melebur diri menjadi satu perkumpulan atau organisasi yang bersifat nasional.
Untuk mewujudkan hal itu, maka tanggal 30 April sampai dengan 2 Mei 1926 di Jakarta diadakan Kerapatan Besar Pemuda-Pemuda Indonesia. Peristiwa itu dicatat sebagai Kongres Pemuda I.
Kongres ini dihadiri oleh wakil-wakil dari berbagai organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes, Jong Bataks, Jong Ambon, dan lain-lain. Kongres dipimpin oleh Muhammad Tabrani.

Tujuan Kongres Pemuda I adalah membentuk perkumpulan pemuda yang satu (tunggal) dengan maksud:
1. Memajukan paham persatuan dan kebangsaan
2. Mempererat hubungan antara semua perkumpulan kebangsaan
Walaupun dalam Kongres Pemuda I belum berhasil mendirikan organisasi pemuda yang bersifat nasional, namun pemuda pelajar tidak berputus asa. Mereka tetap berusaha untuk mendirikan sebuah organisasi yang bersifat nasional. Dalam bulan Juni 1928, dibentuk sebuah panitia untuk persiapan Kongres Pemuda II. Susunan panitia adalah sebagai berikut:

Ketua : Sugondo Joyopuspito
Wakil Ketua : Joko Marsaid alias Tirtodiningrat
Sekretaris : Mohammad Yamin
Bendahara : Amir Syarifuddin

Kongres Pemuda II ini dimulai tanggal 27 Oktober 1928. Rapat pertama tanggal 27 Oktober 1928 diselenggarakan di Gedung Katholieke Jongelingen Bond (Gedung Pemuda Katholik) di Lapangan Banteng sekarang. Rapat kedua diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 1928 pukul 08.00 sampai pukul 12.00 bertempat di Gedung Oost Java Bioscoop (sekarang Jl. Medan Merdeka Utara No. 14). Rapat ketiga diselenggarakan tanggal 28 Oktober pukul 1928 pukul 17.30 bertempat di Gedung Indonesch Clubhuis Jl. Kramat Raya No. 106 (sekarang disebut gedung sumpah pemuda). Kongres Pemuda II ini dihadiri oleh lebih kurang 750 utusan dari berbagai organisasi pemuda yang ada.
Kongres Pemuda II ini berjalan penuh gelora semangat persatuan nasional pemuda Indonesia. Sebagai harapan bangsa, pemuda-pemuda sangat mendambakan persatuan dan kesatuan di kalangan pemuda Indonesia.

Pemerintah kolonial Belanda merasa sangat cemas dan takut terhadap kegiatan kongres pemuda tersebut. Oleh karena itu jalannya siding dijaga sangat ketat dengan alat-alat keamanan Belanda.
Dalam waktu istirahat rapat itu, Wage Rudolf Supratman seorang wartawan dan pencipta lagu, minta izin kepada Sugondo Joyopuspito selaku ketua sidang untuk memperdengarkan lagu ciptaannya berjudul Indonesia Raya.
Setelah mendapat izin dari ketua sidang, W.R. Supratman tampil ke depan untuk memperdengarkan lagu Indonesia Raya ciptaannya. Para hadirin merasa sangat terpukau mendengar lagu Indonesia Raya yang dimainkan oleh W.R. Supratman melalui gesekan biolanya. Demikianlah untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dinyanyikan pada tanggal 28 Oktober 1928.
Keputusan penting yang diambil dalam Kongres Pemuda II itu adalah ikrar “Sumpah Pemuda”. Isi Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 adalah sebagai berikut.

Kami Putera dan Puteri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia.
Kami Putera dan Puteri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Kami Putera dan Puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Isi Sumpah Pemuda itu berintikan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, yaitu Indonesia.

3. Tokoh Sumpah Pemuda

Lahirnya Budi Utomo 20 Mei 1908, telah menimbulkan kesadaran terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Dalam perjuangan menentang penjajah sangat diperlukan persatuan dan kesatuan bangsa. Perjuangan melawan penjajah sebelum tahun 1908 selalu mengalami kegagalan karena perjuangan bersifat kedaerahan dan tidak ada rasa persatuan dan kesatuan. Tanpa adanya persatuan dan kesatuan perjuangan akan senantiasa mengalami kegagalan.
Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan suatu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Peristiwa tersebut juga dapat dikatakan sebagai masa penegas karena pada tanggal tersebut ikrar untuk persatuan benar-benar dinyatakan.
Beberapa tokoh yang berperan dalam Sumpah Pemuda adalah sebagai berikut.

a. Wage Rudolf Supratman
Wage Rudolf Supratman dilahirkan di Jatinegara Jakarta pada tanggal 9 Maret 1903. Setelah menamatkan sekolah dasar di Jakarta, ia melanjutkan di Normal School di Ujung Pandang (Makassar). Setelah selesai sekolah ia bekerja sebagai guru sekolah dasar, kemudian pindah menjadi wartawan.
Dalam Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta ia tampil menyanyikan lagu Indonesia Raya ciptaannya. Saat itulah lagu Indonesia Raya untuk pertama kali diperdengarkan.

b. Mohammad Yamin
Mohammad Yamin dilahirkan di Talawai, dekat Sawahlunto, Sumatera Barat, pada tanggal 28 Agustus 1903. Setelah tamat Sekolah Dasar Bumiputera, ia melanjutkan ke Sekolah Guru di Bukit Tinggi.
Kegiatan berorganisasi dimulai dengan menjadi anggota Jong Sumateranen Bond, kemudian Indonesia Muda. Ia mendambakan adanya persatuan dan kesatuan bangsa.
Dalam Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, banyak buah pikirannya dilontarkan untuk persatuan dan kesatuan bangsa guna mencapai kemerdekaan.
Tokoh-tokoh lain dalam Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 adalah Wongso Negoro, Kuncoro Purbopranoto, Sugondo Joyopuspitp, Tirtodiningrat, dan lain-lain.

4. Peranan Sumpah Pemuda Dalam Mempersatukan Bangsa
Setelah adanya peristiwa Sumpah Pemuda, perjuangan bangsa Indonesia semakin dijiwai oleh semangat persatuan dan kesatuan. Perjuangan ini memuncak pada peristiwa penting tanggal 17 Agustus 1945. Saat itu bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya.
Semangat Sumpah Semuda telah berhasil mempersatukan langkah perjuangan bangsa Indonesia. Perjuangan yang bersifat kedaerahan sudah ditinggalkan.
Dengan tercapainya kemerdekaan bangsa Indonesia maka usaha mengurus dan mengatur Negara dapat dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri. Persatuan dan kesatuan harus tetap dibina karena dalam mengisi kemerdekaan pun mutlak diperlukan persatuan dan kesatuan bangsa.
Dengan Sumpah Pemuda, semangat persatuan dan kesatuan dan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.

No comments: